Sleman – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. Menurutnya, perbedaan dan keberagaman pemikiran merupakan bagian penting dalam memperluas wawasan serta memperkaya proses pembelajaran.
Hal tersebut disampaikan Nusron Wahid saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan”, yang digelar di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (04/09/26).
Dalam kegiatan tersebut, Rocky Gerung turut hadir sebagai narasumber. Kuliah umum diikuti oleh sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna dan Taruni Politeknik Agraria STPN.
Nusron mengatakan, meskipun Politeknik Agraria STPN merupakan sekolah semi-kedinasan, lingkungan akademik harus tetap memberikan ruang bagi berbagai pandangan, termasuk pemikiran yang kritis terhadap negara maupun kebijakan pemerintah.
“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Nusron.
Menurutnya, pertukaran gagasan akan memberikan manfaat lebih besar dibandingkan sekadar pertukaran benda. Ia menggambarkan hal tersebut melalui filosofi pertukaran apel yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.
“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelasnya.
Namun, berbeda dengan pertukaran benda, pertukaran pemikiran justru dapat menambah wawasan seseorang. Ketika dua orang dengan pemikiran berbeda saling bertukar gagasan, masing-masing akan memperoleh perspektif baru.
“Kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tutur Nusron.
Ia berharap tradisi kuliah umum dan dialektika berpikir di Politeknik Agraria STPN terus dikembangkan sebagai ruang bagi para Taruna dan Taruni untuk menyampaikan, mendengarkan, sekaligus menguji berbagai gagasan.
“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita mempunyai kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” kata Nusron.
Sementara itu, Rocky Gerung dalam pemaparannya menilai perdebatan dan kritik merupakan bagian penting dalam proses pertukaran pemikiran. Menurutnya, gagasan harus mendapatkan ruang untuk diuji melalui perbedaan pandangan.
“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky Gerung.
Rocky juga menggunakan pendekatan filosofis untuk mengajak para peserta melihat kembali akar dari berbagai konsep dan pemikiran, termasuk dalam memaknai persoalan tanah.
“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rocky Gerung turut menyampaikan tiga perspektif mengenai pemaknaan pengelolaan tanah. Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur.
Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.
Melalui kuliah umum tersebut, Kementerian ATR/BPN mendorong terciptanya lingkungan akademik yang terbuka terhadap perbedaan pemikiran, kritis, serta mampu memperkaya wawasan dalam memahami persoalan pertanahan dan pelayanan kepada masyarakat. (*/red)
Tags
Pemerintah