Empatlawang.news – Warga Kabupaten Empat Lawang dihebohkan dengan viralnya video pengakuan seorang wanita bernama Rika Raseta, yang sebelumnya mengklaim menjadi korban pembegalan dengan kerugian sebesar Rp80 juta. Namun setelah diselidiki lebih lanjut, kasus tersebut ternyata rekayasa belaka.
Peristiwa yang sempat mencuri perhatian publik itu dilaporkan terjadi pada Senin, 5 Mei 2025 di Lorong Sawah, Kelurahan Jaya Loka, Kecamatan Tebing Tinggi. Namun hasil penyelidikan Satreskrim Polres Empat Lawang mengungkap fakta mengejutkan: tidak pernah terjadi pembegalan seperti yang diklaim.
Kasat Reskrim Polres Empat Lawang, Iptu Adam Rahman, menjelaskan bahwa setelah menerima laporan dari Rika, timnya yang dipimpin Kanit Pidum Ipda Marwan Syarif segera bergerak cepat.
“Dua pelaku pertama, Deka Ardiansyah dan IDI, berhasil diamankan di rumah masing-masing di Desa Talang Padang,” ujarnya.
Namun dalam proses pengembangan kasus, justru muncul fakta baru: Rika Raseta bukanlah korban, melainkan dalang utama dari skenario pembegalan palsu ini.
Dalam video yang diunggah oleh akun resmi Instagram dan Facebook Polres Empat Lawang, Rika secara terbuka mengakui perbuatannya.
“Perkenalkan nama saya Rika Raseta. Saya mengakui perbuatan saya telah merekayasa kejadian pembegalan yang terjadi di Lorong Sawah, Kabupaten Empat Lawang,” ucapnya dalam video pengakuan.
Selain Rika, satu pelaku lainnya bernama Sumiati juga turut serta dalam skenario ini. Total empat orang kini telah diamankan dan menjalani pemeriksaan di Mapolres Empat Lawang.
Sejumlah barang bukti turut diamankan untuk memperkuat unsur pidana dalam kasus ini.
Respons publik pun sangat keras. Kolom komentar unggahan video pengakuan Rika dibanjiri oleh warganet yang mempertanyakan motif, terutama mengapa uang tunai sebesar Rp80 juta bisa dibawa tanpa pengawalan. Banyak juga yang mengecam tindakan para pelaku yang dinilai mencoreng kepercayaan publik terhadap korban kejahatan sebenarnya.
Iptu Adam menegaskan, para pelaku dijerat dengan pasal tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang direkayasa.
"Ini jadi pelajaran penting bahwa informasi viral tidak bisa langsung dipercaya. Butuh klarifikasi dan penyelidikan yang profesional untuk membongkar kebenaran di balik drama seperti ini,” pungkasnya.
