Empatlawang.news - Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, dua situs purbakala di Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, justru terabaikan. Minimnya perhatian pemerintah dan sikap apatis masyarakat membuat dua batu megalitik bersejarah—Batu Betiang di Desa Manggilan dan Batu Bergores Jarakan di Desa Jarakan—terancam lenyap tanpa sempat dikenang generasi mendatang.
Terletak tersembunyi di belakang Madrasah Tsanawiyah Desa Manggilan, Batu Betiang merupakan batu besar yang ditopang oleh tiang batu alami. Diyakini sebagai tempat musyawarah adat pada akhir era Majapahit, bahkan disebut-sebut berasal dari dua perantau asal Demak, batu ini kini hanya dipandang sebagai batu biasa oleh warga.
“Tidak ada penanda, tidak ada pelindung, dan tidak ada edukasi budaya yang diberikan kepada masyarakat,” ujar KH Mastjik, tokoh masyarakat setempat.
Kekhawatiran serupa disampaikan aktivis wisata lokal, Waton Fahrevi, yang menilai situs ini kian diabaikan dari tahun ke tahun. Lebih mengkhawatirkan lagi, sempat muncul laporan tentang aktivitas mencurigakan dari sekelompok orang asing yang mengaku peneliti namun pergi tanpa jejak. Mereka diduga sebagai pemburu artefak ilegal. Sayangnya, hingga kini belum ada tindakan serius dari pihak berwenang.
Kondisi lebih memprihatinkan terlihat pada situs Batu Bergores Jarakan. Terletak di perbukitan Desa Jarakan, batu kedua dari tiga batu besar ini menampilkan relief unik menyerupai lima jari atau kepala manusia. Namun, tidak pernah ada kajian arkeologis yang dilakukan untuk mengungkap makna sejarahnya. Vegetasi liar pun dibiarkan tumbuh tanpa kontrol. Salah satu batu bahkan nyaris tak terlihat karena tertutup lumut.
“Kami sudah ajukan status cagar budaya, tapi belum pernah ditindaklanjuti,” ungkap Sulton Bustari, budayawan lokal yang juga menjabat Ketua Lembaga Adat Empat Lawang.
Meski Dinas Kebudayaan Kabupaten Empat Lawang pernah mendatangi lokasi untuk dokumentasi, tidak ada tindak lanjut dalam bentuk konservasi, edukasi, maupun pemasangan papan informasi. Masyarakat pun dinilai turut lalai. Minimnya pengetahuan sejarah membuat mereka tak lagi menganggap penting situs-situs tersebut.
“Kalau tidak ada yang menjaga, kita akan kehilangan identitas,” tegas Waton.
M. Farrel, jurnalis lokal yang turut melakukan penelusuran, menegaskan perlunya langkah konkret dan sinergi nyata antara pemerintah dan masyarakat. “Sejarah bukan sekadar masa lalu yang dibingkai. Ia adalah fondasi masa depan,” ujarnya.
Pemerintah dinilai harus lebih proaktif, tidak hanya hadir dalam kunjungan seremonial, melainkan mengambil kebijakan strategis yang melibatkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Dihubungi terpisah, Budayawan Sumatera Selatan, Febri Alitani, menyayangkan lemahnya perhatian pemerintah terhadap situs megalitik di Empat Lawang.
“Pendataan awal dilakukan sebelum Empat Lawang jadi kabupaten. Harusnya kini jadi prioritas. Banyak situs seperti Batu Bidung hingga Batu Kumbang yang belum mendapat perhatian,” ujar Febri.
Ia juga menyoroti potensi wisata sejarah dari relief megalitik seperti Batu Kumbang di Desa Jarakan yang dinilai sangat artistik dan layak dikembangkan sebagai destinasi budaya.
Febri berharap, pada periode kedua pemerintahan Bupati Joncik Muhammad, ada upaya nyata untuk mengakomodasi pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah.
"Jejak sejarah adalah akar identitas sebuah bangsa. Jika dibiarkan punah, kita kehilangan lebih dari sekadar batu—kita kehilangan jati diri," tandasnya.
